| SUKSES = MODAL |
|
|
|
| Friday, 30 January 2009 13:29 |
|
Mengembangkan potensi anak tidak cukup dengan pendidikan orangtua dan pendidikan formal, perlu juga pendidikan nonformal, terutama terkait keterampilan. Kebanyakan masyarakat kita bertanya apa yang harus dilakukan. Biarkan anak-anak menggali potensi mereka. Orangtua dan lingkungan hanya mengarahkan. Sejak kecil, semasih balita anak-anak mempunyai harga diri dan inner potensi. Untuk yang remaja dan dewasa hendaknya knowing your self, mengetahui siapakah diri saya, untuk apa saya hidup. Itu yang perlu ditekankan dan social skill-nya setelah itu, sikap yang positif. Berikutnya express your emotion. Remaja selalu punya tingkatan emosi yang lebih tinggi, karena pengaruh hormon dan pengalaman yang didapat dalam kehidupannya.
Bagaimana ia bisa memproteksi dirinya, dapat dilakukan dengan adventure game, sehingga kuat menghadapi masalah. Demikian juga dalam mengaplikasikan diri di lingkungan dan menjadikannya lebih berarti serta mempunyai harga diri atau self esteem lebih tinggi. Untuk mengatasi tingkat emosi yang tinggi, mereka harus lebih banyak introspeksi diri. Tidak mencari kambing hitam. Hal inilah yang harus dibangkitkan dan dikembangkan dengan berbagai pelatihan. Menggali potensi remaja dengan berbagai pelatihan, mengembangkan sikap mental, keterampilan yang dimilikinya dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Ruang kerja saat ini tidak seindah impian. Formasi yang ada dengan persaingan yang tidak sehat, berbeda medannya dengan masa lalu. Perlu peran mentor dalam pendidikan formal, informal maupun nonformal. Bagaimana agar remaja jangan sampai bunuh diri dan sebagainya karena frustrasi. Potensi emosi tinggi bukan berarti temperamental atau marah. Kemurnian spiritual anak remaja ini mestinya diasah. Saya tidak setuju emosi tinggi diartikan pemarah. Remaja harus mempunyai konsep diri, perilaku, inovasi dan kreativitas. Konsep diri dituangkan menjadi kebiasaan dan menjadi input meraih cita-cita. Tanpa konsep tidak akan bisa mencapai tujuan. Cita-cita adalah tujuan hidup. Untuk menjadi seorang dokter, misalnya, apa yang harus dilakukan? Untuk mencapai tujuan itulah diperlukan konsep. Ketika SMA harus mencari jurusan Biologi, harus belajar lebih giat, harus mencapai target NEM yang dipersyaratkan. Setelah berhasil, buat konsep yang lebih tinggi lagi. Bagaimana mencapainya? Tentu harus berkompetisi masuk perguruan tinggi. Setelah lulus harus ada konsep lagi. Ini untuk yang formal. Di pendidikan nonformal pun ada. Dulu saya punya cita-cita menjadi seorang guru kecantikan. Dari SMU saya sudah mengonsepkan diri saya, namun banyak hal yang harus saya lalui. Saya harus belajar, belajar, kursus dasar, terampil, mahir, setelah itu ikut diklat dan seterusnya lantas melanjutkan ikut trainer of trainer sampai akhirnya tercapai tujuan saya menjadi guru. Tanpa dikonsepkan saya rasa tidak akan berhasil. Dulu pun saya pernah punya cita-cita menjadi desainer sebelum ingin jadi guru kecantikan. Saya tidak mengonsepkannya, akhirnya saya gagal. Sesungguhnya kita dilahirkan dengan segala potensi, kemampuan, kecerdasan, dan keterampilan yang bersifat laten. Potensi ini perlu digali, dikembangkan sesuai waktu dan uang untuk dikelola guna meraih impian. Kata kunci terletak pada bagaimana bisa mepertajam talenta yang ada dengan banyak belajar dan berlatih untuk memperoleh wawasan, visi-misi agar gambaran hidup ini jelas terpampang sebagai rujukan untuk mencapai cita-cita. Di sisi lain masih banyak generasi penerus bangsa yang tidak memahami dirinya dan terbawa arus pergaulan bebas yang berujung pada penyesalan. Bagaimana jika kelahirannya cacat fisik maupun mental? Tentu mereka mendapatkan hambatan dalam pengembangan yang berhubungan dengan potensi dirinya. Tiap orang mempunyai self esteem yang dapat ditingkatkan dengan mengubah keyakinan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, kalau aku mau aku pasti bisa. Ternyata mereka bisa dan tidak merasa rendah diri, merasa bisa berbuat sesuatu untuk menghadapi hidupnya. Mereka diberi beberapa keterampilan seperti kecantikan, teraphys spa, tata boga, tata busana. Potensi mereka digali, dikembangkan melalui tulisan mereka dan pendekatan-pendekatan sampai mereka termotivasi. Mereka punya cita-cita namun tidak mempunyai konsep. Konsep ini harus mereka lakukan dengan step by step merupakan intepretasi apa yang harus dilakukan. Jika tanpa konsep, 50% cita-cita gagal, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dan disiapkan. Dengan konsep mereka akan bisa berbuat dan punya semangat, tidak akan berdiam diri. Selain konsep dan cita-cita mereka mesti mempunyai komitmen dan rasa percaya diri. Pada dasarnya tiap orang, sesuai karmanya, memiliki potensi tertentu. Seharusnya dunia pendidikan jeli. Sedari kecil, usia 6 atau 7 tahun dilihat potensinya dan para pendidik harus memahami apa bakat yang terpendam pada anak bersangkutan, agar siaanak bisa diarahkan sesuai bakatnya, sehingga menjelang dewasa lebih mantap dalam cita-citanya. Keluarga dan rumah tangga merupakan komunitas terkecil bagi tumbuh kembang anak. Peran pendidik hanya 40% dalam mengarahkan, memberikan penilaian potensi anak didik. Orangtua memiliki porsi 60%, karena mereka lebih mengetahui tumbuh kembang anak sejak usia dini, remaja sampai dewasa. Anak remaja mempunyai kebebasan untuk berpkir, apakah nantinya ingin menjadi dokter, guru dan sebagainya. Dengan berjalannya waktu mereka akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman. Mereka akan menemukan jawaban, ternyata sang anak benar dan mempunyai cita-cita. Ada terapi yang efektif. Kami dalam waktu dekat akan membuat program ‘’anak lahir kembali.’’ Anak akan diberikan pelatihan 3 hari 2 malam. Selama itu mbenar tidak boleh dengan keluarga, kami akan melatih mereka. Apa cita-citanya, apa yang diinginkan dengan mendapatkan solusinya, akan membuang jauh kambing hitam yang dirasakannya selama ini. Setelah pelatihan dia akan menjadi orang yang baru dengan cita-citanya sendiri. Di sini ditekankan cita-cita adalah menjadi orang berguna, bukan hanya dokter. Karena masalah waktu, ruang dan biaya anak bisa diarahkan, mungkin ke bidang keterampilan yang lain. Bisa mengikuti berbagai diklat yang murah, biaya pemerintah, khususnya untuk pendidikan luar sekolah. Ada 12 jenis life skill bisa didapatkan para remaja yang memang mau maju dan punya komitmen meraih impian. Para remaja jangan berkecil hati, isi hidup ini dengan hal-hal yang bermanfaat sehingga apa yang dicita-citakan bisa diraih dengan sukses, menjadi orang yang berarti dengan mempunyai harga diri.Rai Anggreani, Bali Citra Internasional. |
| Last Updated on Friday, 30 January 2009 13:43 |




